#Part 3
Youngmin as Jo Youngmin (Youngmin)
Minwoo as No Min Woo (Minwoo)
And the other
Genre : Friendship, life, romance.
Setelah
semua aktivitasku hari ini selesai, aku segera pulang ke rumah. Rumah kost
tentunya. Karena lelah, aku segera duduk di kursi depan rumah. Saat itu juga,
Minwoo muncul.
“Hai? Kau sudah pulang?” sapanya.
“Ne. Kau juga?”
“Ne… Oh ya, ini..”
“Apa ini?” tanyaku saat melihat
roti yang ia berikan.
“Sepertinya kau kelaparan.
Makanlah…” dan benar saja, ternyata suara perutku terdengar olehnya. Ah!
Membuatku malu saja! Perutku, kumohon.. Berhentilah.. Jangan sampai Minwoo
bertahan untuk tertawa seperti itu. Aku hanya bisa tersenyum malu dan memakan
roti itu.
“Wah, bajunya sudah kering..”
Minwoo melihat baju si pemilik rumah yang sudah kering di jemuran. Seketika,
aku teringat dengan baju olahraga yang basah itu! Omo! Aku harus segera
mengeringkannya! Hari sudah mulai sore dan otomatis sinar matahari akan
berkurang..
“Kau mau kemana?” tanya Minwoo
yang melihatku yang terburu-buru.
“Baju olahragaku basah. Tepatnya
bukan milikku. Aku harus mengeringkannya..” jawabku sambil memakan roti yang
ada di dalam mulut ini.
“Baiklah.. Ekhmm habiskan dulu
rotinya..” sindir Minwoo.
“Ah, gomawo..” jawabku dengan
tersenyum malu.
……………….
Malam
hari, kurebahkan tubuhku di kasur. Aku teringat akan kejadian hari ini. Dimulai
dari teman-temanku, dan yang lainnya.
“Apa Zee dan Nou menulis lagi di
bulletin board?” aku pun segera mendekati laptop yang kusimpan di meja kecil.
Tapi, mereka tak menulis lagi. Rasanya aku ingin menulis sesuatu untuk mereka.
Semoga mereka semua bisa merasakan apa yang saat ini kurasakan.
“IU”
Apa kabar Zee dan Nou? Hari ini, aku memiliki banyak peristiwa. Setelah
aku pindah ke rumah kost, semuanya berubah. Tapi tetap saja keadaanku di
sekolah tidak berubah sama sekali. Apa kalian ingin mendengarkan curahan
hatiku?
“Nou”
Aku baik-baik saja.. Tapi, aku tidak baik jika melihat kau dilukai..
Aku ikut merasakannya.. Hmm, syukurlah.. Ayolah bercerita… Semoga saja kami
bisa membantumu..
“IU”
Gomawo… :) Tadi pagi karena aku tidak membawa uang yang mereka pinta,
aku dipukuli oleh mereka semua. Tapi, aku hanya bisa diam. Untung saja ada
seorang lelaki yang akhir-akhir ini banyak membantuku. Dan sekarang ia
meminjamkan baju olahraga untukku karena baju olahragaku dimasukkan ke dalam
ember kotor oleh mereka. Tapi, baju olahraga milik lelaki itu malah dimasukkan
ke dalam ember juga. Aku tahu, teman diantara grup kami menyukai lelaki itu.
Tapi, apa salah jika ia menolongku? Lagipula ini bukan hubungan apapun.. Saat
aku menjauh darinya, ia tetap mencoba menolongku. Lalu, apa yang harus
kulakukan?
“Nou”
Kurasa mereka semua teman yang aneh. Semoga kau bisa bersabar.. Hmm,
apa kau tidak memanggil Seongsaengnim?
“IU”
Aku tidak berani.. Aku tidak mau dan takut berubah.. Aku masih dan akan
tetap seperti ini.
“Nou”
Jika kau tetap seperti ini, apa yang akan terjadi selanjutnya? Jangan
putus asa seperti itu!
“Zee”
Hai. Kalian berbicara tanpa aku. IU, aku sedih membaca tulisanmu
diatas.. Tapi, aku juga senang ada yang peduli padamu. Kau juga sudah pindah
rumah? Pasti memiliki teman baru? Syukurlah.. IU, benar yang Nou katakan. Kau
tidak boleh menyerah! Aku, sebagai orang yang pernah menindas oranglain dan
sekaligus pernah ditindas juga, aku merasakan apa yang kau rasakan.
“IU”
Kau baru muncul, Zee? Hehe.. Ya.. Tapi, untuk saat ini belum ada orang
yang bisa menggerakkan hatiku untuk berubah.. Kalian juga termasuk orang yang
membuatku semangat. Tapi, semangat ini belum sempurna. Aku masih memiliki sesuatu
dan akhirnya aku mengurungkan niatku untuk berubah…
Setelah
kucurahkan semua kisahku pada mereka berdua, aku segera menghampiri tempat
tidurku. Namun, saat aku hendak memejamkan mata, bayangan baju olahraga yang
basah itu menghampiriku lagi. Aku teringat dan mencoba melihat baju olahraga
yang belum kering. Tentu saja. Karena kukeringkan di jendela kamar (?).
Akhirnya, aku membawanya dan mencoba mencari mesin cuci di rumah kost. Syukurlah,
Ahjussi memiliki mesin cuci dan aku bisa mengeringkannya disana. Karena takut
terlalu lama, aku pun menunggu baju yang dikeringkan itu di mesin cuci.
…………………
Pagi
hari yang cerah, matahari sudah menampakkan sinarnya. Tak terasa, mataku juga
ikut terbangun. Namun, ternyata aku masih berada di dapur. Aku ingat! Tadi
malam aku menunggu baju olahraga ini dan akhirnya ketiduran. Ah, tak apa.. Yang
terpenting adalah baju ini kering.
………………..
Sesampainya
di sekolah, aku segera mencari keberadaan Youngmin di kelasnya. Namun, apa yang
terjadi. Dia tidak ada. Tidak ada dimanapun.. Kemana dia? Setelah aku kelelahan
membuat baju ini kering, ia tak ada. Apa ia mempermainkanku?
“Annyeong.. Apa kalian melihat
Youngmin?” sapaku pada teman prianya di kelas.
“Youngmin? Sepertinya belum
datang. Atau bahkan tidak akan datang? Aku tak tahu..”
“Benarkah? Oh.. Tapi, apa hari
ini kalian berolahraga?”
“Olahraga? Kurasa tidak..”
“Benarkah?! Oh ya, tolong berikan
baju olahraga ini padanya. Tolong sampaikan terimakasih atas kebohongannya…
Gomawoyo… ” setelah mengetahui kebohongan Youngmin, aku segera pergi ke kelas.
Aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia benar-benar mempermainkanku. Aku yang
sudah berusaha membuat baju itu kering, dia malah mempermainkanku..
……………………..
Suzy P.O.V
“Ma-maaf..” Ji Eun didorong dan
terjatuh di lantai, Dia membentur rak alat makan sehingga menimbulkan suara
keras. Ini kelas persiapan PKK. Latihan masak usai dan saatnya beres-beres. Ji
Eun menginjak kain pel yang dibawa Yuri sehingga para siswi di kelas
menyalahkannya. Saat mereka mengawasi Ji Eun, polanya selalu begitu. Yuri
sengaja bertindak seolah Ji Eun gagal dan mereka menyalahkan kegagalannya itu.
“Kain pelku ada berkas kakinya.
Akan kubalas dengan hal yang sama!!” Yuri berkata begitu dan menginjak Ji Eun.
Ji Eun tak melawan lagi. Karena ia tahu, jika melawan maka ia akan dikasari
lebih parah. Makannya dia diam dan menunggu badai berlalu sambil mengerutkan
tubuhnya. Aku menatap sosok Ji Eun dan memalingkan tatapan agar yang lain tidak
tahu. Tapi suara tawa mereka semua tetap saja masuk ke telingaku, dan membuatku
sengsara. Begitu mereka menginjak Ji Eun seperti Yuri, Yuri membawa gunting
kain dari kelas PKK.
“Perlihatkan kali jelekmu pada
semua orang!” Yuri berkata begitu lalu memotong rok seragam Ji Eun.
“Ja.. Jangan!!” semua tertawa
saat mendengar jeritan Ji Eun. Semua memegang gunting itu bergantian dan
memasukkannya ke dalam rok Ji Eun.
“Suzy!” Yuri memanggilku. Mungkin
wajahku sudah pucat. Semua menatap satu-satunya penonton yang tidak tertawa di
tengah-tengah pertunjukkan. Yuri menatapku dengan tatapan seolah-olah
mencurigaiku. Aku mengeluarkan tangan pada Yuri.
“Aku juga..” dia memberikan
gunting itu padaku. Gunting yang beratnya mengejutkanku itu mengandung
kehangatan karena dipegang oleh mereka semua. Aku memasukkan gunting itu ke
dalam rok Ji Eun sambil gemetar. Dengan begini, mereka takkan tahu apakah aku
memotongnya atau tidak. Aku cukup berpura-pura memotongnya. Aku akan baik-baik
saja. Saat berpikir begitu, guntingnya gemetar dan menyentuh kaki Nozawa.
“Ah!” darah merah mengalir di
kaki putih Ji Eun. Aku menjatuhkan gunting itu tanpa berpikir. Semua pun
terkejut dan buru-buru kabur dari ruang persiapan.
“Bilang kalau itu kau lakukan
sendiri!!”
“Awas kalau kau mengadu!!” aku
pun berlari menyusul grupku dari ruang persiapan. Aku tak bisa melupakan darah
merah di kaki Ji Eun. Aku tidak sengaja.. tidak sengaja… Tapi akulah yang telah
melukai kakinya dengan gunting!!
Aku sangat
menderita sehingga hampir tumbang di tengah jalan. Aku memegang siswi anggota
grupku yang segera berlari menghampiriku. Lalu dia pun berteriak, “A… Apa-apaan
kau?!! Kau memuakkan! Lepaskan!”
“Suzy? Apa yang kau lakukan? Jika
kau membencinya, tidak seharusnya kau melakukan itu!” para siswi yang ada
bersamanya pun melihatku dan berkata,
“Apa-apaan dia?! Dia seperti mau
mati! Amit-amit!!” semuanya berlari. Aku tumbang di koridor yang tak ada orang.
Kucoba bernafas namun tak bisa.. Sesak… Sesak!! Aku menggenggam dadaku sambil
bernafas berat. Nafasku sesak.. Siapa saja.. Tolong!! Nafasku sesak..
“Hei.. Ada apa?” suara langkah
kaki beberapa orang mendekatiku bersama dengan suara itu.
“Ada apa? Kau baik-baik saja?”
siswi yang tak pernah kulihat membopongku.
“Tunggu, mungkin sebaiknya kau
jangan bergerak! Biar kupanggilkan dokter!”
“Ya, cepatlah!!”
“Nafasmu sesak? Tenang, dokter
akan segera tiba.” Siswi itu menggosok punggungku dengan sungguh-sungguh.
Berkat itu aku kembali tenang.
“Sudah sembuh? Syukurlah..” para
siswi tersenyum ceria. Senyum mereka berkilau.
“Terimakasih..” aku berdiri
perlahan-lahan.
“Ah, kurasa dokter sudah mau
sampai. Bagaimana kalau kau istirahat sebentar di Ruang UKS?”
“Tidak usah.. Aku sudah tidak
apa-apa. Terimakasih banyak.”
“Jangan paksakan dirimu ya!” aku
menundukkan kepala dan membelakangi mereka bedua. Airmataku tak berhenti
mengalir. Aku pasti… Telah berbuat sesuatu yang salah.
Suzy P.O.V end
…………………..
Setelah
kulihat darah di kakiku menetes cukup deras, aku tidak segera pergi ke ruang
UKS. Aku takut seongsaengnim melihatku dan menanyakan keadaanku. Aku baik-baik
saja… Lebih baik seperti ini walaupun terasa perih.. Jadi, kubalut luka itu
dengan sapu tanganku. Sementara rokku yang sobek karena digunting, kututupi
oleh jaket. Untung saja hari ini aku membawa jaket.
Setelah
itu, aku harus pergi bekerja. Biarlah dengan apa yang kurasakan, aku harus
bekerja karena ini haru keduaku.
……………….
Akhirnya,
waktunya pulang. Aku bisa segera mengobati luka ini. Dengan kakiku yang
terlihat pincang, semua mata tertuju padaku. Tak apalah. Yang terpenting aku
pulang!!
Saat
di depan kamar kost, kulihat Minwoo sedang membersihkan rumahnya. Otomatis dia
melihat cara berjalanku yang berbeda. Saat ia ingin bertanya, aku langsung
masuk ke kamar kost. Aku tidak ingin berbicara hari ini.
“IU”
Apakah kalian masih disini?
“Zee”
IU, aku ada disini. Aku.. Sama sekali memikirkanmu.. Oh ya, aku ingin
bertanya. Jika kalian memiliki teman dan temanmu itu orang yang kau sukai.
Tetapi dia malah menyukai teman yang selalu ditindas ini. Apa aku harus
ditindas dulu agar ia menyukaiku?
“Nou”
Kurasa itu bukan takdirmu.. Jika kau bersikeras untuk mendapatkannya,
kau harus berpikir bahwa di luar sana banyak orang yang lebih dari orang yang
kau incar. Jika itu jodohmu, suatu saat kau akan didekatkan oleh Tuhan. Dan
jika bukan, kau harus menerimanya.
“IU”
Ya, benar apa kata Nou. Tunggu, kau ini seorang pria atau wanita? Hehe
XD
“Nou”
Hei, aku pria.. XD
“IU”
Benarkah? Jarang sekali kutemukan seorang pria yang peduli dan mengerti
banyak tentang semuanya. Jangan-jangan kau mengalaminya ya?? :P
“Nou”
Issshh kau ini.. Sudahlah, lupakan. Zee, apa kau masih disana?
“Zee”
Nou, terimakasih usulannya. Aku rasa kau benar. Jadi selama ini aku
salah. Aku bersikeras untuk mendapatkannya dan sekarang aku jadi menindas
wanita itu. L
“IU”
Zee, aku jadi teringat dengan seseorang… Apa kau ini… Ah, tidak jadi..
XD
“Nou”
Ya, Zee… Sama-sama.. Sekarang, ubahlah hidupmu menjadi lebih baik.. IU,
tolong berbicara dengan jelas.. Hehe XD
“Zee”
Terimakasih teman-teman.. J
Tadinya
aku ingin sekali mencurahkan hatiku pada mereka semua. Tapi kurasa ini bukan
saat yang tepat. Mengingat Zee yang juga sepertinya memiliki masalah, aku tidak
boleh memperkeruh keadaan sehingga Nou bingung ingin berpihak pada siapa..
Hehe.. Hmm, tapi aku sempat curiga pada Zee. Apakah ia adalah Baek Su Ji?
Ceritanya sama seperti yang kualami, walaupun aku tak tahu Youngmin suka padaku
atau tidak. Kurasa tidak, dia hanya mengasihaniku.
………………
Suzy P.O.V
Esoknya, Yuri
dan beberapa temanku berkumpul di koridor sambil berbisik-bisik dan tertawa.
Aku berdiri di dekat sana sambil bergetar dan tegang. Karena nafasku sedikit
sesak, aku menghirup nafas dalam-dalam dan menghelanya. Aku berteriak dalam
hati sambil menekan jantungku yang berdebar-debar. Semangat diriku.. Jangan
menyerah! Saat itu Ji Eun datang. Dia memakai jaket olahraga sebagai pengganti
roknya yang sobek. Begitu dia menyadari kehadiranku dan Yuri serta yang
lainnya, dia menatap kakinya sambil ketakutan. Tapi dia tidak kabur.. Karena
dia akan ditindas lagi jika melakukan hal itu.
“Selamat pagi, Ji Eun!” Yuri
mendekati Ji Eun sambil berlagak ramah. Dia menjatuhkan saputangannya ke kaki
Ji Eun. Ji Eun berusaha mengelak namun tidak bisa dan hampir menginjaknya! Aku
pun langsung mengambil saputangan itu sebelum terinjak.
“Eh?!” aku memberikan saputangan
itu pada Yuri dan kawan-kawan yang terkejut.
“Nih.”
“Apa-apaan kau?!”
“Aku mengambilnya karena
terjatuh. Untung tidak terlalu kotor.” Yuri berkata terimakasih sambil berbisik
dan menatap marah.
Teman-teman
yang mengelilingi Yuri masuk ke dalam kelas tanpa berkaat apa-apa. Yuri pun
masuk kelas seolah-olah menyusul mereka. Aku berhasil mencegah pertunjukan
penindasan! Aku merasa lega dan pinggangku terasa enteng! Lalu aku menatap
dengan Ji Eun.
“Selamat pagi..” aku katakan itu
sambil tertawa kecil. Begitu Ji Eun melihat ke bawah sambil ketakutan, dia
berjalan melewatiku dan masuk kelas. Aku kecewa.. Kenapa? Karena kukira dia
akan tersenyum dan berterimakasih.. Bukankah seharusnya dia tidak pergi dalam
kesempatan sebaik itu? Aku tak boleh kalah oleh perasaan ini. Aku menatap
kelasku. Aku harus berubah.. Aku harus berubah walaupun perlahan-lahan. Demi
teman-teman di internet, dan masa depan.
Suzy P.O.V end
……………..
Syukurlah
Suzy menolongku.. Ah, apa itu hanya kebetulan? Tapi, maaf. Aku tak berani untuk
berterimakasih atau apapun padamu saat ini..
Tak
lama, ada banyak sms dari ponselku. Isinya:
(Subject: tidak ada)
(Konon, LJE dari kelas 1-3
menyukai Kim Seongsaengnim, si guru Matematika! Untuk menarik perhatiannya, dia
tidak mau belajar Matematika bahkan menyontek saat tes. Dasar licik!! Dia
bakteri kelas kita. Kalau bicara dengan LJE nanti bakterinya menular!! Yang
ingin tertular, bertemanlah dengannya!! Tapi kalian takkan bisa kembali ke
dunia yang bersih!!)
LJE
(Lee Ji Eun). Hanya aku yang punya inisial begitu di kelasku. Itulah sms yang
menjelekkan diriku dan dikirim ke seluruh teman sekelasku.
“Apa.. Ini…??” jantungku berdegup
sampai aku merasa sakit dan tubuhku bergetar. Aku bahkan tak pernah menyukai
Kim Songsaengnim. Menyontek pun tak pernah. Siapa… Siapa yang mengarang
kebohongan ini?! Kucoba membuka sms lainnya dengan tangan gemetar.
(Subject: Tidak ada)
(menyebalkan menyebalkan
menyebalkan…)
“Hei, kau sudah membaca
emailnya?”
“Wajahnya tampak tenang-tenang
saja..”
“Sms ini dikirimkan ke seluruh
siswa sekolah ini lho..” saat itu juga aku teringat dengan Youngmin. Mengapa
aku mengingatnya? Padahal aku membencinya karena telah membohongiku. Tapi, dia
bilang dia mempercayaiku dan sekarang aku membuatnya kecewa.
Kuraih ponselku
dan berlari. Aku segera menemui Youngmin dan berbicara padanya. Kuturuni tangga
menuju pintu masuk. Begitu berlari melewati koridor, aku melihat Youngmin di
halaman tengah.
“Youngmin!” aku segera datang
padanya.

waaah.. Sepertinya dugaan jieun benar. Zee itu suzy . Hehehe
BalasHapusHmm.. Penasaran gmn kelanjutannya . nextnya agak cepet yah cingu? Hehehe good job . ^^
Makasih udah nyempetin baca FF ini. Haha.. Jadi seneng. Hihi :D
HapusMaaf ya kalau telat. Masalahnya, aku punya banyak tugas (alasan). Hehe.. Mudah-mudahan secepatnya.
Ghamsahamnida.. #Bow
ne.. Gpp cingu. Kelarin aja dulu tugasnya . Baru fokus deh ke FF. Hehehe
BalasHapusHwaiting cingu ^^