#Part 4
Youngmin as Jo Youngmin (Youngmin)
Minwoo as No Min Woo (Minwoo)
And the other
Genre : Friendship, life, romance.
Kuraih ponselku
dan berlari. Aku segera menemui Youngmin dan berbicara padanya. Kuturuni tangga
menuju pintu masuk. Begitu berlari melewati koridor, aku melihat Youngmin di
halaman tengah.
“Youngmin!” aku segera datang
padanya.
“Untung kau masih ada di sekolah. Aku ingin
menjelaskan semuanya.. Apa kau membaca sms itu?” ujarku.
“Sms apa?” tanya Youngmin
bingung. Huft.. Dia belum tahu.. Syukurlah.
“Kemarikan ponselmu!” Youngmin
segera memberikannya namun saat akan diberikan padaku, dia menariknya kembali
dan melihat pesan masuk. Wajahnya berubah. Tanganku gemetaran. Aku takut..
Youngmin
membanting ponselnya ke tanah. Sebegitu marahkah dia padaku? Saat kulihat
ponselnya, disana bukan hanya ada isi pesan itu, tapi ada foto! Foto dimana aku
sedang berada di pantai dengan mengenakan pakaian renang.. Dan mereka bilang di
sms itu, bahwa aku memberikan foto ini pada Kim Seongsaenim agar nilaiku bagus.
Sungguh!! Aku telah difitnah!! Aku tidak melakukan semuanya! Aku tidak pernah
berada di pinggir pantai dengan mengenakan baju renang seperti itu.. Sungguh..
Percayalah padaku..
……………...
Sepulang
sekolah, aku menyimpan ponselku di bawah bantal dan mematikannya. Aku tidak mau
mendengar suara ponsel yang berbunyi terus menerus. Aku.. Aku tidak mau! Besok,
ada ulangan B.Inggris. Aku tidak bisa belajar. Aku terus memikirkan tentang
masalah ini. Bagaimana jadinya besok aku di sekolah? Apa lagi yang akan
terjadi? Ya Tuhan, bisakah semua ini selesai? Impianku hanya ini. Impian yang
membuatku bahagia. Aku bisa terlepas dari semua ini dan menjadi teman baik
mereka. Hanya itu yang kubutuhkan.
Tuk tuk tuk!
Tiba-tiba
saja terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu. Apa itu Ahjussi si pemilik
kost ini? Kurasa aku sudah membayar kost bulan ini. Ada apa ya?
“Ji Eun~ah..” ujarnya menyapaku.
Ternyata dugaanku salah. Dia Minwoo.
“Kau. Ada apa?” jawabku dengan
wajah yang lesu.
“Kau kenapa?”
“Tidak apa-apa. Huft, apa hanya
itu saja? Jika ya, aku akan masuk.” Kali ini aku tidak bersemangat untuk
berbicara pada siapapun.
“Tunggu!”
“Ne?”
“Aku dengar kau memiliki masalah
di sekolahmu.. Apa benar?”
“Kau siapa? Apa aku harus
menceritakannya padamu?” kututup pintu dan menguncinya. Hari ini, aku tidak mau
diganggu.
………………
Keesokannya,
di sekolah. Begitu aku ke kelas, suara riuh rendah disana terhenti. Walaupun
suasana menjadi tenang, semua menatapku tajam. Ada pula yang tertawa
menyeringai. Begitu sampai di bangkuku, ditengah tatapan dingin yang seolah
hendak menusukku, aku pun menahan nafas. Mejaku tertutup oleh banyak coretan.
“Aku sangat mencintaimu Kim Seongsaengmin” “Jangan ke sekolah”
“Menjijikkan” “Gadis jelek”….
Aku berusaha mati-matian untuk
menghapusnya namun sama sekali tak terhapus karena ditulis dengan pulpen berminyak.
Semua menertawakan diriku yang seperti ini.
“Aaah, itu kan meja sekolah.
Untuk apa kau lakukan itu?”
“Kau harus menggantinya!” saat
aku hendak mengatakan sesuatu, semua pura-pura kabur.
“Wah, dia menatap kita!!”
“Bisa tertular bakterinya, nih!!”
seisi kelas mulai menyerangku sebagai sasaran tunggal. Atmosfer kelas berubah
dingin secara drastis. Aku terdiam seperti telah dipukul dengan senjata tajam.
Mereka semua
menatapku seolah-olah aku ini benda kotor dan berbisik-bisik memfitnahku.
Karena merasa sedih dan tidak tahan, begitu ulangan usai, aku langsung
meninggalkan kelas. Semua mengenalku dan semua membenciku.. Banyak tatapan…
Banyak orang.. Orang yang menyebarkan email fitnah itu ada di dalam sini.
Siapakah dia?? Mengapa dia lakukan ini?
Kuhampiri
toilet untuk menghapus wajah murungku ini. Ketika hendak pergi ke toilet, aku
berpapasan dengan Youngmin. Youngmin yang baru saja dari toilet itu akan
kembali ke kelasnya. Kami pun sempat terdiam memandang satu sama lainnya.
Kebetulan belum ada semua orang disana. Aku ingin sekali berbicara mengenai
itu, tapi aku takut dia memotongnya lagi. Lagipula apa hubungannya dengannya?
“Lee Ji Eun!” aku terkejut
mendengar suara wali kelasku. Seongsaengnim.. Ya, akan kuceritakan semuanya
pada beliau. Tidak! Jika itu kulakukan, entah mereka akan berkata apa.. Tapi,
bisa jadi..
“Ne..” kuberikan jawaban salam
dengan menundukkan badanku 90 derajat. Kulirik Youngmin sekilas dan pergi
menghampiri Seongsaengnim.
“Seongsaengnim.. Anu..” aku
hendak menjelaskannya. Tapi, rasanya ceritanya terasa begitu panjang sehingga
sulit untukku mengungkapkannya. Tanpa kusadari, Youngmin masih ada disana
mendengarkan percakapanku dengan Seongsaengnim.
“Kemarilah!” Beliau membawaku
masuk ke Ruang Bimbingan dan Konseling. Disana sudah menunggu guru Konseling
dan Kim Seongsaengnim. Firasatku mulai tidak enak.
“Lee Ji Eun, apa ini?” wali
kelasku mengeluarkan satu unit ponsel di depanku. Jantungku serasa akan
berhenti. Yang muncul di layar ponsel itu adalah email untuk Kim Seongsaengnim
berisi fotoku yang tengah memakai baju renang dan kata-kata mesum seperti “aku menyukai
Seongsaengnim” dan “ciumlah aku”.
“Apa maksudnya ini, Ji Eun?
Apa-apaan email untuk Kim Seongsaengnim ini?!”
Jika
kalian percaya, aku akan bilang bahwa itu bukan aku. Sungguh bukan aku! Kapan
aku pergi ke pantai dengan memakai pakaian renang yang ketat seperti itu? Aku
hanya pernah memakai baju kaos dan celana pendek saja.
“Kau kira Kim Seongsaengnim akan
menaikkan nilai Matematikamu setelah mengirim email macam ini?!”
“Tak kusangka kau bisa melakukan
hal sehina ini!” para guru terus menyalahkanku. Aku tak bisa berbicara. Aku
hanya bisa berlinangan airmata dan terus menggeleng. Aku.. Takkan bisa sekolah
lagi. Sebenarnya ulah siapa ini?
“Guru, sungguh. Ini bukan aku.
Aku.. Aku tidak pernah memakai pakaian renang seketat itu. Apalagi
mengirimkannya pada Kim Seongsaengnim. Aku.. Aku.. Aku.. Aku tidak pernah
mengirimkan pesan mesum itu terhadap beliau. Sungguh!”
…………….
Esoknya,
aku tidak masuk sekolah. Pihak sekolah menyuruhku diam di rumah untuk merenung
sehingga orangtuaku tidak tahu apa-apa. Mungkin di dunia ini tak ada orang yang
mempercayaiku. Semua orang membenci diriku yang terasing dan kotor. Saat
berpikir begitu, air mataku mengalir tak henti-henti. Nafasku sesak.. Sesak,
sesak!! Siapa saja, tolonglah aku!! Tapi siapa?
Tanpa
kusadari, aku mengingat Zee, Nou, dan yang utama adalah tetanggaku itu. No Min
Woo. Entah mengapa aku ingin sekali bercerita padanya. Aku tak akan
menceritakannya pada Zee dan Nou. Sudah cukup untukku membuat mereka khawatir.
……………
Minwoo P.O.V
Kunyalakan
televisi. Bosan sekali hari ini. Sekolah libur dikarenakan rapat guru.
Teman-teman yang lain sedang berliburan bersama pasangan dan keluarganya. Aku?
Aku tidak memiliki pasangan. Keluargaku tak mungkin memiliki waktu luang.
Malangnya nasibku ini…
Tuk tuk tuk!
Suara ketukan
pintu di luar. Aku terpikir Ji Eun. Tetanggaku itu. Apa itu dia? Bagaimana jika
dia? Dia akan menceritakan semuanya padaku? Wah, indah sekali! Haha..
“Ji Eun?” kubuka pintu dan
menemukan Ji Eun tengah berdiri berbalik badan.
“Aku kira kau tidak ada..” ia
segera masuk ke dalam kamarku tanpa diizinkan. Anehnya gadis yang satu ini.
“Ada apa?” kumulai pembicaraan.
Sebelumnya, kuambil dulu air minum untuknya. Ia pun segera meminumnya. Hmm,
sepertinya memang ada sesuatu hal yang terjadi.
“Aku.. Aku membutuhkanmu. Aku
membutuhkan pendapatmu saat ini.”
“Baiklah. Semoga aku bisa
membantu,”
……………….
Tak
lama, Ji Eun meminta pamit untuk pulang ke kamarnya. Aku pun mempersilahkannya.
Semoga saja pendapatku ini bisa bermanfaat untuknya.
“Terimakasih..”
“Ne.. Sama-sama.. Hmm, semoga
cepat selesai ya. Mengingat, kau selalu memiliki hal yang sama seperti ini.
Tapi, ini lebih dari itu.”
“Tunggu! Kau bisa tahu?
Darimana?”
“Bukankah kau sudah
menceritakannya?”
“Bukan itu! Sebelumnya. Kau
bilang aku selalu memiliki hal yang sama seperti ini. Sementara aku tidak
pernah menceritakannya kepada siapapun..”
“Ah, aku hanya menebaknya saja..
Oh ya! Aku pernah melihat kakimu yang berdarah dan kulihat itu sama seperti
sekarang..”
“Oh.. Baiklah.. Terimakasih..”
Minwoo P.O.V end
………………
Paginya,
aku mencoba untuk bangun. Bangun dari tidurku dan mulai pergi ke sekolah.
Minwoo berkata, jika kau ingin masalah ini cepat selesai, besok aku harus
sekolah. Mungkin agar aku tidak terlihat seperti siswi yang sedang merenungi
kesalahannya.
Sesampainya
di sekolah, seperti biasanya, semua orang menatap diriku yang berjalan ke arah
kelas. Tapi, kini tatapan mereka berbeda. Tidak seperti biasanya. Matanya tidak
memberikan kesan benci terhadapku. Ada apa ini?
Di
dekat tangga menuju kelas, kulihat Youngmin sedang bersama seorang wanita. Dia
Suzy. Ada apa ini? Mereka terlihat begitu akrab. Ketika aku melewati mereka,
mereka acuh padaku. Seperti sedang memperbincangkan sesuatu yang lucu. Aku pun
tertunduk.
Seketika
saja, aku merasakan sesuatu yang mengganjal. Apakah aku menyukai Youngmin? Atas
dasar apa aku menyukainya? Apa karena ia selalu memberikan perhatiannya padaku?
Bukan, bukan perhatian. Tapi, kasihaniannya. Lamunanku pun dikejutkan oleh guru
yang tiba-tiba saja datang. Beliau wali kelasku.
“Ji Eun, ada yang ingin kami
bicarakan..”
………………
Aku
dibawa ke ruang Bimbingan dan Konseling. Disana, sudah ada Yuri. Tunggu! Yuri?
Ada apa ini? Apa Yuri lah dalang dari semua ini?
“Ji Eun?” ujar guru BK. Aku pun
duduk di samping Yuri.
“Ji Eun, kau akan sekolah seperti
biasa.” Ujar guru BK lagi. Syukurlah.. Aku menghela nafas. Namun, Yuri seperti
memberikan tatapan sinisnya padaku.
………………….
“Maafkan aku..” kumulai
percakapan dengan Yuri ketika kami memutuskan untuk berbicara di taman belakang
sekolah.
“Maaf? Untuk apa?”
“Semua ini karenaku…”
“Kau baru menyadarinya?
Baguslah.. Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
“Tapi, sungguh. Aku tak melakukan
semua itu. Kau.. Kau kenapa melakukan semua ini?” Yuri terdiam dan berpikir.
“Aku ingin membuat sebuah
kekacauan! Aku ingin Suzy menjadi milik Youngmin! Kau tahu?!” dia marah! Dia
marah besar!
“Apa hubungannya denganku?”
“Youngmin sepertinya menyukaimu.
Saat ia tahu kau seperti itu, dia mulai dekat dengan Suzy!” aku pun terdiam.
Mengingat peristiwa saat aku baru datang ke sekolah. Youngmin dan Suzy terlihat
begitu akrab.
“Arasseo.. Aku akan menjauhi
Youngmin..”
………………….
Sepulang
sekolah, kulihat bulletin board lagi. Aku merasa rindu pada mereka berdua, Nou
dan Zee.
“Zee”
Selamat pagi, Nou dan IU!!! Hari
yang cerah ya!!
“Nou”
Sepertinya ada yang berbeda
denganmu..
“Zee”
Maksudmu?
“IU”
Sepertinya Zee sedang jatuh
cinta.. ^^
“Zee”
^^
Mood-ku
berubah. Aku harus menghirup udara segar. Tapi, aku harus tetap melihat
bulletin board ini. Jadi, kuputuskan untuk membawa laptopku ke halaman.
“Aaaaaaaaa!” aku pun terpeleset
jatuh ketika berjalan turun dari tangga. Tangganya licin, sehingga aku tidak
bisa menyeimbangkan tubuhku. Tanganku terluka kecil. Namun, laptopku terbanting
cukup jauh ke bawah! Ya Tuhan! Laptop itu adalah harta berhargaku. Aku
mengumpulkan uang untuk membelinya..
Kuhampiri
laptopku, berharap masih hidup dan dapat digunakan. Namun, harapanku sirna
sudah. Laptopku rusak, tidak dapat digunakan.
………………….
Keesokan
harinya, ketika aku hendak pergi ke sekolah, aku melihat sebuah bingkisan
berada di depan pintu kamar. Karena disana tercantum itu hadiah untukku, aku
pun membukanya.
“Ah, tidak! Tidak ada waktu untuk
membukanya!” aku pun memasukkan sebuah kado itu ke dalam kamar kost-ku. Kulihat
jam di tanganku telah menunjukkan pukul 7 pagi. Aku tidak boleh terlambat!
Kutempuh
perjalanan dengan menaikki bis yang seperti biasanya. Sesaat kulirik tempat
duduk di sampingku. Sepertinya wajahnya sudah familiar. Rasanya aku
mengenalnya. Benar! Dia..Suzy..
“Ji Eun?” sapa Suzy dengan
terkejutnya. Aku hanya tersenyum kebingungan. Bingung harus menghadapinya
seperti apa. Aku takut dia akan mempermalukanku di bis. Tapi, itu sangatlah
tidak mungkin.
“Su Ji?” jawabku. Seketika
wajahnya terkejut dan memelototiku.
“Su Ji?! Bukan Su Ji! Suzy..
S-U-Z-Y.. Suzy..” ternyata, ia tidak mau dipanggil Su Ji. Apa ada yang salah?
Menurutku, itu sama saja.
“Mengapa tersenyum?” tanya Suzy
melihatku tersenyum.
“Ah, ania.. Mianhaeyo..” aku pun
menundukkan kepalaku dan tidak mau memulai percakapan dengannya. Aku malu
padanya.. Entah apa yang membuatku malu.
#TBC
Sebelumnya maaf ya, part 4 kurang ngeuh (?). Maklum, author amatiran.. =='
Thx for read
Sebelumnya maaf ya, part 4 kurang ngeuh (?). Maklum, author amatiran.. =='
Thx for read

akhirnya next juga.. Hmm.. Syukurlah sepertinya keadaan mulai berpihak ke Jieun nih, hehehe
BalasHapusNext nya ditunggu cingu ^^