Cast :
IU
as
Lee Ji Eun (Ji Eun) Me
Youngmin
as
Jo Youngmin (Youngmin)
Minwoo as
No Min Woo (Minwoo)
And the other
Genre : Friendship, life, romance.
#Part 6
Huft.. Kini, aku tidak bisa
berbicara dengan mereka lagi. Mereka pasti akan menghapus bulletin board ini.
Sebenarnya, aku tak ingin menghapus semua ini. Tapi, aku tak ingin memberatkan
sahabatku itu. Kali ini Aku takkan menyerah menghadapi apapun.. Akan kutempuh
jalan di depan mataku. Itu bukan jalan yang lurus melainkan jalan yang
bergelombang, tanjakan yang berat dan gang kecil yang tak dapat kulewati.
Terkadang aku tak dapat maju karena angin bertiup dan hujan turun.
Hari
ini, tanggal 30 Mei. Aku akan mencatatnya sbg hari yang sangat bersejarah dalam
hidupku. Aku bersyukur sekali bisa merasakan semua ini. Semua ini menjadi
pelajaran yang paling berharga bagiku. Kelak, ketika aku memiliki keluarga aku
akan meceritakan kepada mereka pengalaman berhargaku ini. Dimulai dari
penindasan, tumbuhlah sebuah persahabatan bahkan benih-benih cinta.. Cit
cuiww!! Prikitiew! Haha XD
……………
Sepulang
sekolah, aku pergi ke restaurant tempat aku bekerja part time. Semoga saja hari
ini pelanggan tak terlalu banyak, aku ingin segera pulang. Letih sekali
rasanya.. Tapi aku cukup senang dengan semua ini.
“Lee Ji Eun?” tiba-tiba saja
seseorang mengagetkanku dan suaranya sudah tak asing lagi bagi telingaku ini.
Dia pemilik restaurant ini. Pasti ada yang hendak ia bicarakan.
“Ne?”
“Sebelumnya saya meminta maaf..
Kami sebenarnya sudah tak membutuhkan pekerja part time. Karena, seperti yang telah kau ketahui, restaurant kami sedang mengalami krisis pelanggan karena restaurant baru yang tidak berada jauh dari sini. Terimakasih telah membantu kami disini.. Mungkin, ini uang untukmu..” jelasnya. Seketika saja wajahku memerah. Aku bingung. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Kami sebenarnya sudah tak membutuhkan pekerja part time. Karena, seperti yang telah kau ketahui, restaurant kami sedang mengalami krisis pelanggan karena restaurant baru yang tidak berada jauh dari sini. Terimakasih telah membantu kami disini.. Mungkin, ini uang untukmu..” jelasnya. Seketika saja wajahku memerah. Aku bingung. Apa yang harus kulakukan sekarang?
“Oh.. Baiklah.. Ne.. Saya tahu,
pak.. Terimakasih sebelumnya..” aku tak bisa berkata apapun lagi. Kuterima uang
gaji untuk yang terakhir kalinya itu. Aku kira dengan adanya restaurant baru
itu tak akan memberikan dampak bagiku, terutama bagi restaurant ini. Aku
berpikir bahwa ini tidak akan terjadi. Mengingat restaurant ini sangatlah ramai
pengunjung. Hampir setiap harinya kami mendapatkan pelanggan baru. Tapi, ada
apa ini? Apa mungkin restaurant baru itu lebih murah?
Aissh~!
Lupakan! Sekarang, jangan bahas semua itu! Kini aku harus mendapatkan uang dari
mana? Bahkan tagihan kost bulan ini belum aku bayar karena pihak restaurant
belum menggajiku juga. Uang gaji terakhirku ini cukup untuk bulan ini saja
termasuk uang kost. Mengapa masalah selalu datang menghampiriku? Ketika satu
permasalahan dapat terpecahkan, mengapa permasalahan lain datang secara tak
diduga?
“Buku apa ini?” kulihat sebuah
buku yang masih cukup bagus tergeletak di pinggir jalan.
“How to be a writer..?” itulah judul bukunya. Artinya, bagaimana
menjadi seorang penulis?
PENULIS?
Apa itu pekerjaan yang menguntungkan? Kurasa itu hanya tulisan belaka yang tak
akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Hanya membuang-buang waktu saja.
“Baguslah jika buku kita laku
terjual di pasaran, tapi jika tidak? Bagaimana? Hmmm…” aku pun menyimpan buku
itu di atas meja luar sebuah café.
Semua
orang terlihat senang malam ini. Mereka duduk santai, bercanda gurau bersama
temannya, seakan tak ada beban yang mengikutinya. Apa mereka memiliki hidup
yang bahagia? Dikehidupan selanjutnya, aku sangat ingin berada dalam posisi
menyenangkan seperti itu. Duduk bahagia tanpa harus memikirkan beban hidupnya.
Semua kesenangan menghampiri dirinya sendiri tanpa harus bersusah payah. Semua
yang mereka inginkan dapat dengan mudai terwujudkan dan sampai di depan mata.
Ahhh~~ Kenapa aku harus berbicara seperti ini? Bukankah aku sudah bertekad
untuk menghadapi semua rintangan yang datang? Lee Ji Eun.. Fighting! Ini demi
masa depanmu, Lee Ji Eun! Demi Zee dan Nou juga. Mereka sekarang pasti sedang
berjuang juga. ^^
……………
“Eomma?!” langkah perlahanku
terhenti ketika melihat sesosok wanita yang kukenal. Eommaku! Mengapa dia ada
disini? Mengapa dia bisa menemukanku?
Kupeluk
tubuhnya erat-erat tanpa memikirkan perasaan maluku dilihat oleh semua orang
yang ada di rumah kost. Kebetulan, hari ini adalah malam minggu dan kost kami
masih ramai.
“Eomma! Aku sangat merindukanmu..
Mengapa eomma bisa menemukanku?” kulepas pelukanku untuk berbicara dengannya.
Kini wajah Eomma berubah. Wajahnya sudah tak seperti dulu lagi. Sepertinya
bebannya sudah menghilang. Mungkin apa karena aku tak ada? Bebannya menghilang?
“Ji Eun anakku.. Eomma juga
sangat merindukanmu..”
“Ehmm, Appa. Bagaimana
keadaannya?” eomma terdiam dan tersenyum padaku. Apa yang ia lakukan? Aku tak
mengerti.
“Kami sudah bercerai. Ketika kau
pergi, rasanya ada sesuatu yang hilang dari diri eomma. Lalu Appamu jarang
pulang ke rumah. Dan akhirnya eomma lebih memutuskan untuk bercerai saja. Itu
jalan yang terbaik.” Kini, senyuman yang jarang aku temukan dari bibir indah
eomma akhirnya muncul juga. Sudah lama aku menginginkan senyuman ini. Senyuman
yang tak bisa dibohongi. Senyuman yang keluar dari hatinya sendiri.
“Eomma!!” tak kusangka air mata
yang tak ingin kukeluarkan akhirnya keluar juga. Tetesan air mata ini jatuh dan
membasahi baju eomma.
Minwoo P.O.V
“Ahjussi.. ini uang untuk bulan
ini. Sudah lunas, ok?” Ahjussi si pemilik kost itu langsung mengambilnya tanpa
menghitung dulu. Biasanya ia sangat teliti ketika menghitung uang.
“Hei, anak muda. Lihat itu.
Pemandangan yang sangat indah bukan?” ujar Ahjussi itu. Matanya berbinar-binar.
Ada apa dengannya?
“IU? Dia dengan siapa? Sepertinya
sangat dekat.. dan.. mirip…”
“Ahhh~ indah sekali….” Ahjussi
mencium uangnya sembari melihat ke arah seseorang.
“Ya.. Keluarga yang indah
sekali..”
“Bukan itu yang kumaksudkan!
Gadis itu.. indah sekali..”
“Maksudmu Lee Ji Eun?! Kyaa~!
Ternyata kau memendam perasaan padanya! Aku tak setuju!! Kau sudah tua! Tak
pantas bersama Ji Eun!”
“Hei! Apa yang kau katakan?!
Mengapa marah seperti itu?!” Ahjussi terdiam. Oh iya ya. Ada apa denganku ini.
Lagipula kalau ia berjodoh dengan Ahjussi ini tidak apa-apa juga kan? Yg
penting aku tidak. Hahaha..
“Ehm, maksudku orang yang berada
di sampingnya itu..” gumam Ahjussi dengan suara kecil. Telingaku masih peka.
Sehingga aku dapat mendengarnya.
“Mwoya?! Kau menyukainya…”
“Hmm, ne.. Eh, kau menyukai Ji
Eun?” tiba-tiba saja Ahjussi melontarkan pertanyaan itu secara berulang-ulang.
Wajahnya dekat padaku sehingga aku pun terkejut. Aku pun menutup mata. Dia
pasti melihat pancaran bola mataku.
“Untuk apa? Lagipula tak ada sesuatu yang disembunyikan..” aku pun
membuka mataku dan melihat Ahjussi sudah tak ada. Dia sudah mendekati Ji Eun
dan sepertinya Eommanya. Dia datang pada Ji Eun. Sungguh, atmosfernya panas
sekali!!
Minwoo P.O.V end
………………..
>>>>>3 tahun kemudian…..>>>>>
“Hmm, kau akan menjadi adikku.
Tapi aku sudah berumur 19 tahun. Eonni yang sudah tua ya..” aku bergumam
sendiri melihat perut besar yang kini melekat di tubuh eomma.
Ne.
Eomma hamil tua! Haha.. Eomma berumur 39 tahun. Aku cukup cemas dengan keadaan
eomma. Aku takut. Tapi, jangan. Ini sudah terlanjur. Haha.. Hmm, pasti kalian
bingung kenapa eomma bisa hamil? Itu tak usah ditanyakan ya. Hehe.. intinya, 2
tahun yang lalu Eomma menikah kembali bersama Ahjussi itu. Ahjussi itu lho.
Pemilik rumah kost itu. Hebat kan? Takdir itu ternyata memang mengejutkan ya. Kini
Ahjussi itu berumur 40 tahun. Ehm, maksudku Appa.. hehe..
Walau
begitu kami tidak melupakan Appaku. Aku selalu datang untuk melihat keadaannya.
Appaku sekarang berubah. Sejak mereka bercerai dan kemudian mendengar bahwa
eomma akan menikah lagi, dia berubah. Mungkin Appa sadar. Syukurlah. Aku
senang. Dia bekerja sebagai supir bus di Seoul. Aku sering menaiki bus-nya
secara gratis. Haha.. XD
Kriingg!! Kriiing!!
Suara telepon rumah berdering.
Namanya tertulis penerbit meneleponku.
“Yeoboseyo?”
“Lee Ji Eun?”
“Ne, saya sendiri..”
“Oh. Baiklah. Aku akan berbicara informal. Hehe.. Ji Eun~ah.. Tadi ada
yang memberitahukan bahwa pesanan novelmu sangat penuh. Kami akan mengirimkan
uangnya untukmu. Hmm, setelah aku baca, ceritanya menarik juga. Kau hebat!
Setiap hari toko buku selalu memesan novelmu karena kehabisan.”
“Jinjja?! Syukurlah.. Aku
senang..”
“Aku merasa itu adalah kisah nyata.. Apakah itu kisah hidupmu?”
“Ah, ini rahasia ya. Kau boleh
tahu karena kau temanku. Itu kisah hidupku dan untuk percintaannya aku karang
sendiri. Haha..”
“Bagus. Ok. Aku dipanggil direktur dulu. Bye..”
Pagi
hari sekali, aku sudah mendapatkan kabar gembira. Novel yang kubuat selama satu
tahun itu ternyata laris di pasaran. Aku kira menulis itu hal yang buruk.
Ternyata, mendapatkan uang. Haha.. intinya jangan berpikir untuk membuat suatu
karya harus bagus. Dan juga jangan takut tak ada yang akan membacanya. Itu
semua butuh proses. Itu yang dikatakan Minwoo. Eh, ngomong-ngomong Minwoo
sekarang ada dimana? Setelah rumahku pindah aku sudah lost contact dengannya.
Dengan Suzy, Yuri dkk, dan tentunya Youngmin juga. Nou dan Zee juga! Pasti
mereka lebih sukses dari pada aku. Mereka mungkin berada di luar negeri
sekarang. Bahkan di bulan? Bisa saja. Mungkin menjadi astronaut.
“Eomma, aku berangkat!” aku pergi
dengan langkah memiliki tujuan yang pasti. Tanpa keputusasaan. Akhirnya,
setelah perjuangan yang melelahkan ini aku mendapatkan sesuatu yang pasti. Hmm,
yang cukup menurutku.
Aku
berjalan mengelilingi kota seoul di pagi hari. Semoga saja inspirasi dapat
muncul. Aku sangat suka berada di tempat yang ramai. Karena, disana pasti ada
berbagai macam kejadian. Sehingga aku bisa berkhayal dan mendapatkan inspirasi
untuk novelku selanjutnya.
“Ji Eun?” seketika saja
khayalanku hilang karena dia datang. Ketika kulihat wajahnya, dia Suzy! Tak
lama berjumpa!!!
“Suzy?!!!” kami pun berpelukan
layaknya teletubbies. Itu sudah khas dari tiap wanita ketika bertemu dengan
orang yang lama tak dijumpainya.
“IU!!”
“Tunggu!” kulepaskan pelukannya.
Wajahnya nampak bingung.
“Kenapa kau tahu nama panggilanku
itu IU?” Suzy menunjukkan novelku. Dia membacanya.
“Lalu kau tahu bahwa itu
pengalaman pribadiku? Tapi, itu kisah cinta yang aku karang… Kau jangan tertawa
ya..”
“Tidak. Ini bukan karangan.
Kurasa asli. Karena Youngmin yang tertulis disini bernama Jiyoung mencintaimu.
“Ania.. Dia mencintaimu..”
“Apa kau benar-benar IU?”
“Tentu saja. Kau. Jangan-jangan..
Zee?!”
“IU!! Ternyata selama ini aku
berbicara denganmu. Padahal kita bisa berbicara secara langsung. Takdir yang
tak dapat diduga.”
…………….
Minwoo P.O.V
Aku
berlari dengan terburu-buru. Hari ini ada pertemuan rapat antar perusahaan,
jadi aku harus segera pergi. Rapat dimulai pukul 10 pagi sementara sekarang
sudah jam 9.30. 30 menit? Mana bisa? Akhirnya, kuputuskan untuk tidak makan dan
segera pergi. Pakaian yang belum rapi ini sengaja kurapikan di dalam taxi
ketika di perjalanan.
Kriiing!! Kriing!!
Suara bunyi deringan ponsel. Aku
segera menerima telepon itu.
“Yeoboseyo?”
“Chagi.. Kau sudah sampai?”
“Berhentilah memanggilku chagi!
Aku sudah mengatakannya beribu-ribu kali”
“Arasseo…. Mianhae aku tak membangunkanmu.. aku juga kesiangan..”
“Ne…” aku pun segera menutup
teleponnya. Dia menambah lambat kerjaku saja. Berani-beraninya dia memanggilku
chagi. Panggilan itu hanya boleh dilontarkan oleh orang yang kusayangi.
Sementara dia, aku tak menyukainya. Wanita manja sepertinya akan menjadi calon
istriku? Perjodohan yang buruk. Bagaimana orangtuaku bisa memilihnya? Pasti
karena saham.. ckckck.
Sesampainya
di tempat tujuan, sudah kurasakan atmosfer yang panas. Apakah aku akan dimarahi
oleh Appa karena terlambat? Sepertinya tidak.
“Chesohamnida…” seseorang yang
sama-sama terburu-buru pun menabrakku. Dia baru saja turun dari mobilnya.
“Youngmin? Kau Youngmin?”
wajahnya mirip seperti Youngmin. Apa ini hanya halusinasi saja?
“Kau.. Minwoo?” aku pun
menggangguk. Kami pun bersalaman. Ternyata dia anak dari rekan kerja Appa di
perusahaan yang akan bekerja sama dengan kami. Syukurlah. Pasti kerja sama ini
akan berhasil.
Minwoo P.O.V end
…………
Berjalan
dan bersenda gurau bersama Suzy rasanya tak ada habisnya. Kami lebih memilih
berbincang-bincang sembari berjalan daripada diam di café. Itu membuang uang.
Hehe..
“Oh ya, bagaimana perkembangan
hubunganmu dengan pria itu?” tanya Suzy secara tiba-tiba. Mengapa kini ia mulai
membicaraan soal cinta?
“Pria itu? Siapa?”
“Kalau tidak salah namanya No Min
Woo. Bagaimana?”
“Kami hanya teman saja. Kami
sudah tidak memiliki hubungan karena aku pindah rumah.. Bagaimana dengan
Youngmin?”
“Kau tahu? Setelah kau
menjelaskannya pada Youngmin, ia meminta agar kami menjadi sahabat. Mungkin dia
ingin melakukan pendekatan. Aku senang. Dan sekarang aku masih berhungan
dengannya. Bahkan dia berniat melamarku. Tapi aku belum siap. Hehe.. karena aku
sebenarnya ingin menunggu kau, Ji Eun. Karena semua ini berkat kau. Jeongmal
gomawo, Ji Eun..^^”
“Tentu saja. Kau temanku.. ^^ Kau
tahu Nou?”
“Waeyo?”
“Hmmmm, aku menyukainya..” Suzy
terdiam keheranan. Ia bingung apa yang aku katakan.
“Apa yang kau katakana?”
“Ah, ania… tak bisa diulangi.
Haaha..!!”
Setelah
lama berjalan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sekolah SMA kami dulu.
Sedikit bernostalgia tak ada salahnya kan?
“Sekarang tanggal berapa?”
“30 Mei kalau tak salah.”
“Jinjja?!”
“Memangnya kenapa?” aku pun
menggelengkan kepala. Aku senang dengan tanggal 30 Mei. Ternyata, semuanya
menggembirakan. Semoga saja.. Pertama aku mendapatkan berita bahagia mengenai
pekerjaanku. Lalu aku bertemu dengan teman lamaku, Suzy dan ternyata dialah
Zee. Aku harap aku bisa bertemu dengan Nou. Jika aku bertemu dengan Nou, dia
berarti takdirku.
Ketika
masuk ke dalam gerbang sekolah, tali sepatuku lepas sehingga aku harus
menalikannya dahulu.
“Youngmin?!” Suzy berlari meninggalkanku.
Dia berlari ke arah tempat parkir guru. Karena penasaran dan sepatuku sudah
selesai ditalikan, aku menoleh ke depan. Disana sudah terdapat Suzy dan
Youngmin sepertinya. Tapi seseorang ada diantara mereka. Wajahnya seperti
Minwoo.
“Ji Eun~ah!! Kemarilah!” Suzy
berteriak. Kini ia sedang merasakan kebahagiaan yang teramat mendalam. Haha..
aku pun menghampiri mereka. Semoga saja aku tak akan merusak kebahagiaan
mereka.
“Annyeong! Lama tak bertemu..”
sapaku kepada mereka berdua dengan senyuman.
“Annyeong, Ji Eun!” jawab
Youngmin.
“Annyeong. Tak disangka kita bisa
bertemu lagi…” sambung Minwoo yang tak mau kalah.
“Youngie~ah.. bagaimana jika kita
melihat-lihat keadaan sekolah?” Youngmin mengangguk mengiyakan sehingga mereka
pun berpegangan tangan menuju sekolah lama kami. Teganya mereka berdua
meninggalkanku disini. Eh, tidak! Kami berdua. Karena tak tahu harus berbuat apa, mataku mengikuti
kemana mereka pergi. Menunggu Minwoo memulai pembicaraan.
“Bagaimana kabarmu?” akhirnya
Minwoo berbicara juga.
“Baik. Kau sendiri? Ehm,
sepertinya berbicara disini tidak enak. Bagaimana jika kita mengikuti mereka.
Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan…” kami berdua pun tertawa
bersama.
“Kau masih sama seperti dulu,
IU…”
“Ne? Kau.. pasti sudah membaca
novelku, kan?”
“Novelmu? Novel apa?”
“Kau tak tahu?”
“Aku memang kurang suka membaca.
Kau tahu itu kan?”
“Lalu mengapa kau bisa tahu
panggilanku itu IU?”
“Sudah lama aku
menyembunyikannya. Aku tidak ingin menyesal seperti dulu lagi. Ini kesempatan
emas.” Gumamnya.
“Sebenarnya aku sudah tahu kau
adalah IU yang di bulletin board itu. Tapi aku sengaja tak memberitahumu.
Karena aku suka ketika berbicara denganmu di bulletin board..”
“Jinjja? Jadi kau Nou?!” antara
percaya dan tidak percaya. Kami pun terdiam dalam keheningan. Ternyata, Minwoo
adalah Nou yang selama ini aku tunggu-tunggu. Ternyata dia. Bagaimana mungkin?
Aku sudah menganggapnya sebagai sahabatku.
“Apa salah jika aku Nou? Jika kau
lebih suka kau menganggapku sbg Minwoo, tak masalah..”
“Ania! Hanya saja… Ini tidak
mungkin.”
“Tidak ada yang tidak mungkin.
Ayo kita pergi..” Minwoo pun berjalan mendahuluiku, setelah beberapa langkah,
ia pun terdiam sehingga aku bisa menyusulnya.
“Aku menyukaimu..”
“Ne?!” ia bilang dia menyukai
seseorang. Sangatlah tidak nyambung dengan pembicaraan.
“Aku menyukaimu, IU..”
“Mwo?! Kau.. Kau menyukaiku?!”
Minwoo menolehkan wajahnya padaku sehingga kami menatap satu sama lain.
“Wae? Apa kau lebih menyukai
Youngmin? Atau bahkan kau lebih menyukai sosok Nou?”
“Bukan begitu.. atas dasar apa
kau menyukaiku? Ne.. Aku menyukai Nou, bukan kau..” aku pun tertunduk. Aku
takut apa yang kuucapkan ini menyakiti hatinya.
“Hmm, aku tahu jawaban ini.
Seharusnya aku tak mengatakannya padamu..” Minwoo mulai melangkahkan kakinya.
“Tunggu! Apa seperti itu?
Setidaknya aku tahu kaulah Nou yang selama ini aku impikan..” terkejutnya
diriku ketika mengatakan semua itu. Secara tak sadar aku mengatakannya. Malunya….
Kututup mataku untuk menutupi rasa malu. Semoga ini mimpi. Cepatlah bangun!
“Benarkah? Tapi aku tak mau kau
menganggapku sbg Nou yang selama ini kau impikan. Aku ingin kau menganggapku
sbg diriku sendiri, No Min Woo.” Minwoo kembali menyambung pembicaraannya. “Jika
kau menganggapku sbg Nou itu sama saja kau tak mencintai sosok diriku yang
aslinya. Kau mengerti bukan apa yang aku ucapkan?” aku pun menganggukan kepala
tanda mengerti. Aku tahu, aku lebih menyukai sisi Nou daripada Minwoo. Padahal selama
ini orang yang membantuku adalah Minwoo. Orang yang memberikanku laptop baru
tanpa memberitahukan identitasnya. Bukan Nou yang peduli padaku, tapi Minwoo. Tapi
kenapa selama ini aku mencintai sosok maya Nou itu? Sulit.
“Mianhae.. aku mengerti
sekarang.. Mianhae..”
“Untuk apa kau meminta maaf
padaku?” aku pun tersenyum padanya dan menunjukan jari kelingkingku.
“Maksudmu?” karena ia tak
mengerti, aku menghampirinya dan menyuruhnya untuk menunjukkan jari
kelingkingnya juga. Akhirnya ia tersenyum juga, ia pasti sudah mengerti.
“Jadi, kita pacaran?” nadanya tak
beraturan. Haha.. Lucunya..
“Siapa yang berbicara seperti
itu?” masih mengikatkan kelingking satu sama lain.
“Lalu?”
“Sepertinya masih jauh untuk
masuk ke tahap itu.” Aku pun menyenggol tubuhnya dan tertawa.
“Pendekatan?” kuputar kedua bola
mataku dan membuang napas.
“Hmmm, aku pikir-pikir dulu..”
lalu kuanggukkan kepalaku dan menggandeng tangannya sembari menariknya.
“Kyaaa!!! Ji Eun~ah!!” kami pun
tertawa bersama menuju sekolah lama kami.
Aku
senang bisa menemukan Nou yang sebenarnya dan orang yang benar-benar
menyukaiku. No Min Woo – Lee Ji Eun. Apakah kita akan selalu bersama? Lalu,
bagaimana dengan Youngmin dan Suzy? Kurasa tak lama lagi aku akan mendapatkan
undangan bahagia dari mereka. Haha.. Lalu, bagaimana dengan kalian? Aku akan
menunggu kritik dan sarannya. XD
![]() | |||
| (Masa SMA) |
Note: Aku buat satu part lagi. Kayaknya masih gaje? Hehe.. Akhirnya selesai juga. Ditunggu kritik dan sarannya. Terimakasih.. ^^ Don't be a silent reader, friends.. ^^




kyaaa.. Keren nih endingnya . Gini kan lebih enak . Hehhee
BalasHapusMksh cingu udh bkin 'final part' sesuai harapan . Kekeke
Great Job . :)
Gamsahamnida.. #bow ^^
Hapus