Pagi hari di halte bis Cheonma.
Terdengar suara bis yang menghampiri halte bis yang siap mengantarkan
penumpangnya ke tempat tujuan. Di musim
semi ini, para murid sudah bisa masuk ke jenjang berikutnya. Termasuk seorang
pria berumur 15 tahun yang hendak masuk
ke sekolah barunya, SMA. Namanya adalah No Min Woo.
Minwoo P.O.V
Akhirnya, tiba juga hari-hariku
mengenakan seragam ini.. Berakhir sudah hari-hari berat belajar untuk ujian
masuk sekolah. Mulai hari ini, aku pulang-pergi ke sekolah baru naik bis. Kemudian....
Hatiku
terkejut melihat seseorang di depan gerbang yang hendak masuk ke sekolah yang
sama denganku. Tentu saja aku telah mengenalnya. Sontak saja aku memanggil
namanya dan menyapanya.
“Noona!! Kak Ji
Eun!!!” aku berlari menghampirinya. Pertama, ia terlihat bingung. Namun,
akhirnya ia mengingatku juga. Syukurlah..
“Kau? Kau Minwoo?”
jawabnya.
“Betul! Lama sekali tidak jumpa..” jawabku dengan senyuman indah
dibibirku.
Author P.O.V
Dua anak manusia itu pun pergi
bersama untuk memasuki kelasnya masing-masing dengan diisi bincangan dan
candaan-candaan kecil.
“Wah, aku tak
menyangka kau bisa masuk sekolah ini!” terdengar suara bahagia dari Ji Eun.
“Haha.. Kau meledekku?”
“Bercanda..
Bercanda..”
“Minwoo-ah, kau
masih main basket?”
“Tentu saja! Kak Ji
Eun sendiri? Bagaimana?” terlihat Minwoo yang menaikkan tangannya seolah
binaragawan.
“Sayangnya, di
sekolah kita tidak ada klub basket putri..” dengan santainya Ji Eun menjawab.
“Benarkah?” Minwoo
terlihat gelisah.
“Maka dari itu, aku
sekarang jadi manajer untuk klub basket putra..” Ji Eun memberikan senyuman
indahnya yang membuat matanya terlihat mengecil.
Minwoo P.O.V
Huft.. Inilah alasan mengapa aku
belajar mati-matian untuk bisa masuk ke sekolah ini. Aku ingin masuk sekolah
yang sama dengan Kak Ji Eun.. Hehe..
“Minwoo-ah, kau
masih main basket?”
“Tentu saja! Kak Ji
Eun sendiri? Bagaimana?”
“Sayangnya, di
sekolah kita tidak ada klub basket putri..”
“Benarkah?”
“Maka dari itu, aku
sekarang jadi manajer untuk klub basket putra..”
“Yes! Semakin
banyak waktu yang bisa kulewatkan bersamanya!” gumamku dalam hati.
“Selama 3 tahun,
kita akan bersenang-senang Minwoo..” Kak Ji Eun menoleh padaku.
“Hah?! 3 tahun?”
“Ya.. 3 tahun...”
“Aku tidak naik kelas....” Kak Ji Eun mengucapkannya padaku. Lagi-lagi
dia menatapku dengan tatapan berarti. Yang benar saja?! Mana mungkin seorang
Lee Ji Eun tidak naik kelas?
Author P.O.V
Ji Eun dan Minwoo masuk ke kelas
yang sama. Akhirnya, bel sekolah berbunyi dan waktunya memulai pelajaran.
Minwoo P.O.V
Aku tak percaya... Kak Ji Eun..
Kak Ji Eun yang selalu aku impikan sekarang jadi teman sekelasku!! Apakah ini
mimpi? Aku pun melirik ke bangku belakang tempak Kak Ji Eun duduk. Dia terlihat
sangat antusias dan santai walaupun semua orang tahu ia tak naik kelas. Saat
menatapnya, hatiku menjadi berdebar sangat kencang. Aku pun menelan ludah.
Jadi anak SMA,
berganti seragam.. Main basket, pulang-pergi naik bis. Lalu... Membuat
pernyataan cinta...
Author P.O.V
Jam sekolah sudah berakhir.
Waktunya semua murid untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Termasuk
Minwoo yang sudah sampai di rumahnya.
“Aku pulang!”
Minwoo segera mengganti bajunya dan duduk di depan televisi. Terlihat kakaknya,
No Min Ji yang asalnya teman sekelas Ji Eun di SMP.
“Ternyata, benar ya
gosip Ji Eun tak naik kelas,” Minji menghampiri Minwoo sembari membawa segelas
teh hangat.
“Kau tahu
darimana?”
“Aku dengar dari
teman sekelasku. Kenapa ya, Ji Eun bisa sampai tinggal kelas?
“Padahal dia
pintar... Kelakuannya baik, tidak menyusahkan guru.. Kenapa ya?” gumam Minwoo.
Minji hanya tertawa kecil.
“Bocah lugu ini!”
Minji menyenggol Minwoo dengan sikutnya.
“Aduh!”
“Apa kau tidak
tahu?! Justru itulah yang sedang ramai digossipkan..” Minwoo menatap wajah
Minji tanda penasaran.
“Katanya, dia menyukai
adik kelasnya dulu. Ia ingin sekelas dengannya! Sekarang aku tanya, dari
sekolahmu ada berapa anak yang masuk ke SMA Youngsang?”
“7 orang. 6
perempuan, lelaki hanya aku seorang..”
“Asyik! Pasti kau
yang disukainya.. suuiit suiit!!!” goda Minji.
“Yanga benar
saja?!!!”
“Ah, sudahlah. Yang
dimaksud juga belum tentu kau,” Minji membalikkan badannya.
“Apa?!” Minwoo
marah dengan ucapan Minji yang tak jelas dan membuatnya kaget.
“Yang namanya adik
kelas itu macam-macam. Siapa tahu adik kelas di tempat les atau waktu SD..”
“Lebih mungkin jika
adik kelas waktu SMP!”
“Ah, terlalu banyak
kemungkinan..” jawab Minji tertawa.
“Kakak ini
bagaimana sih?!!!!”
“Apa Kak Ji Eun merasakan hal yang sama denganku?” batin Minwoo
berpikir. Minji terlihat sudah pergi meninggalkannya. Lagi-lagi hati Minwoo
berdebar dan keringatnya keluar.
Author P.O.V
Keesokan harinya, di sekolah.
Hal yang sama dilakukan oleh Minwoo. Namun di bis ia bertemu dengan temannya
semasa SMP yang masih berteman dengannya sampai sekarang.
“Minwoo?”
“Jeongmin?”
“Hai! Bagaimana
sekolahmu di Youngsang?”
“Luar biasa...
Hahaha.. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga. Wah, kau
mungkin satu orang lelaki yang beruntung masuk ke sekolah terkenal itu.
Padahal, teman-temanmu yang lain ingin sekali sekolah disana dan tidak masuk.
Beruntungnya kau ini!!” Jeongmin memegang pundak Minwoo.
“Haha.. Syukurlah..
Oh ya, sudah sampai. Aku duluan ya!”
Minwoo P.O.V
“Hai! Selamat
pagi..” sapa seseorang yang ternyata Kak Ji Eun. Jantungku terasa berhenti
berdetak.
“Cepat sekali
datangnya, Kak Ji Eun...”
“Kau juga..”
“Ania. Hari ini
giliranku untuk piket,”
“Aku juga!”
“Benarkah? Bukankah
nomor urut kita jauh berbeda?”
“Namaku Lee Ji Eun,
dan kau No Min Woo. Hampir berdekatankan abjadnya..”
“Oh iya.. Hehe..
Aku tidak berpikir demikian..” jawabku tertawa kecil dan membalikkan badanku.
“Karena kita sudah
saling kenal, jadi lebih mudah bekerja sama. Ini sebabnya kenapa aku tinggal
kelas.” Aku pun kaget. Keringatku mulai bercucuran kembali.
“A.. Alasan kau
tinggal kelas?”
“Aku ingin sekelas
dengan Minwoo. Apa boleh?” aku telan air ludahku saat mendengar ucapannya.
“Ini bohong kan?”
kubalikkan badanku untuk menatapnya.
“Sedikit bohong,
tapi ada benarnya juga. Bukankah ini luar biasa? Waktu itu kita kakak dan adik
kelas.. Tak punya keberanian untuk bergaul akrab, juga dibatasi dengan rasa
sungkan.. Dengan begini, bukankah kita bisa akrab? Bukan begitu?” Kak Ji Eun
menolehkan wajahnya padaku sambil tersenyum.
Dia suka dengan adik kelasnya. Ingin sekelas denganya....
Aku teringat dengan ucapan Kak Minji kemarin.
Author P.O.V
Waktunya pulang sekolah. Waktu
begitu cepat berlalu. Namun, hari ini ada latihan basket. Jadi, Minwoo tidak
segera pulang dan menelpon kakaknya untuk pulang terlambat hari ini.
Tiba-tiba drek! Suara bola yang
masuk ke ring basket. Ya! Minwoo yang memasukkannya. Terlihat Ji Eun
menyemangati Minwoo. Itu semakin membuat Minwoo semangat.
“Hebat! Hebat!
Berjuanglah Minwoo!!” terdengar suara Ji Eun di luar lapangan. Minwoo hanya
tersenyum. Sementara teman-teman basket yang lain membuat latihan berhenti.
“Hai! Anak baru!
Apa hubunganmu dengan manajer kita?!!”
“Eh, tidak! Tidak
ada apa-apa..”
“Yang benar saja?
Tadi dia menyemangatimu..” ujar seorang lelaki di hadapannya. Dia adalah kakak
kelas Minwoo. Namanya Kim Dong Hyun atau lebih akrab disapa Donghyun. Asalnya
ia sekelas dengan Ji Eun. Namun karena Ji Eun tidak naik kelas, akhirnya
pertemuan mereka hanya saat latihan basket saja. Menurut gossip, ia menyukai Ji
Eun dan pernah membuat pernyataan cinta pada Ji Eun di hadapan teman-temannya.
Namun, Ji Eun menolak dengan alasan ingin fokus dengan belajar dan ingin
bersahabat baik dengan Donghyun.
“Dia teman
sekelasku.. Wajar saja jika aku menyemangatinya. Aku sudah kenal baik denganya.
Lalu apa urusan kalian melarangku menyemangatinya? Aku senang karena dia adalah
murid baru tetapi penampilannya di basket sudah tak terlihat baru lagi..
Sudahlah! Lanjutkan latihan kalian!” Ji Eun menghampiri kerumunan dan pergi
kembali. Donghyun terlihat kecewa dengan jawaban Ji Eun tadi.
“Apa ini orang yang membuat Ji Eun bersemangat lagi?” batin Donghyun
menatap Minwoo. Minwoo hanya membungkukkan badannya.
Minwoo P.O.V
Aku pulang dari latihan basket
bersama Kak Ji Eun. Saat melewati ruang guru, terdengar seongsaengnim yang
memanggil kami berdua.
“Hai! Kalian berdua
bukankah piket hari ini?” aku dan Kak Ji Eun menoleh dan menghampiri
seongsaengnim.
“Tolong bagikan
daftar nama murid ini, cepat ya!”
“Baik, pak..” Minwoo
membawa daftar nama murid yang diberikan seongsaengnim.
“Kubawakan separuh,
ya?” tawar Kak Ji Eun sembari berjalan.
“Tidak perlu, biar
kubawa sendiri..”
“Ah, dasar laki-laki..” kutatap langit-langit sekolah sembari
tersenyum. Kak Ji Eun selalu menampakkan wajah ceria penuh tawa di hadapanku.
Aku ingin percaya bahwa dia menungguku...”
Author P.O.V
Malam
hari, di rumah Ji Eun. Tepatnya di kamarnya.
“Benarkah?” terdengar suara kecil dari seseorang di kamar sana. Ya, Ji
Eun. Ia sedang melilaht-lihat daftar nama murid. Namun, tiba-tiba ia menitikkan
air matanya di depan daftar nama murid itu. Ia lipat-lipat dan melempar daftar
itu ke sebuah tempat sampah di kamarnya.
Pagi hari...
Minwoo P.O.V
Aku berlari ke sekolah, berlari
menggapai impianku..
“Selamat pagi,
kak!” sapaku dengan tersenyum lebar.
“Lho? Tidak ada?” aku terdiam sejenak ketika melihat seisi kelas yang
kosong.
Tak lama, Pak seongsaengnim
datang dan melihat daftar absensi.
“Lee Ji Eun! Lee Ji
Eun tidak hadir?” saat seongsaengnim mengucapkannya, para murid saling
berbisik-bisik pada temannya.
“Dia pasti bolos!
Sudah tinggal kelas, sekarang berani membolos. Oh, Lee Ji Eun murid yang
tinggal kelas itu ya? Pantas saja membolos..” ucapan itu yang terdengar dari
telingaku. Aku termenung dan keringatku lagi-lagi keluar.
Author P.O.V
Sebenarnya apa yang sedang
terjadi dengan Ji Eun? Mengapa ia tidak sekolah? Apa mungkin ia membolos? Dan
bagaimana reaksi Minwoo saat mengetahuinya? Apa yang akan dilakukan Minwoo?
Tunggu kisahnya di Part 2.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar