Kamis, 16 Februari 2012

(FF) - My Tears *Part 1


Title      : My Tears
Author : KyUPpa (Latifa Nurkhalisa)
Cast       : IU                         as                            Lee Ji Eun (Ji Eun) Me
                Youngmin              as                            Jo Youngmin (Youngmin)
                Minwoo                as                            No Min Woo (Min Woo)
And the other
Genre   : Romance, Angst, Life
Note    : Back song = IU - Someday (Instrument&not instrument)

                
 #Part 1

             Kedua orangtuaku sibuk bekerja dan selalu pulang larut malam. Kunyalakan TV sendirian di kamar yang mulai gelap karena senja telah tiba. Lampunya tak kunyalakan. Begitu dikelilingi oleh warna cerah dan suara TV di kamar yang gelap, aku lega seolah-olah diriku yang dibenci lenyap. Saat itu aku teringat pada tulisan di internet kemarin.
Apa seseorang akan menuliskan ide bagus untukku? Cara agar aku dapat berteman dengan teman-temanku secara normal. Cara agar aku tidak jadi manusia yang dibenci.. Kunyalakan PC dan melihat bulletin board. Disana hanya terdapat tulisan dari “Zee” dan “Nou” yang kemarin menulis.
“Zee”
                IU, kau kenapa? Kurasa apa yang IU alami adalah penindasan.. Dulu, aku sempat ditindas, namun aku memutuskan untuk pindah sekolah dan saat ini ada seorang siswa yang menjadi penggantiku di sekolah baruku. Akhirnya, aku bisa berteman dengan teman-teman grupku. Kali ini aku ada di pihak orang menindas, karena aku tidak ingin ditindas seperti dahulu.. Aku juga tidak bisa meninggalkan grupku..
“Nou”
                Annyeong haseyo.. Kurasa apa yang Zee ungkapkan memang benar. Kau sepertinya sedang ditindas.. Tapi, aku tidak setuju dengan apa yang Zee lakukan. Bukankah kau tahu bagaimana rasanya ditindas??
“Zee”
                Karena aku takut dijadikan sasaran lagi, karena tak bisa menindas. Aku ini sangat licik dan kotor. Manusia kotor itu yah seperti diriku ini.. Kalian sama sekali tidak kotor… L
“Nou”
                IU-ssi, kau sama sekali tidak menulis ya?? Apa kau baik-baik saja?? Kau tidak membaca? Kau sama sekali tidak kotor..
“Zee”
                IU-ssi? Kau tak apa-apa?? Aku mencemaskanmu…
“IU”
                Kalian tidak tahu apa-apa… Kumohon jangan menulis berlebihan!!!

            Begitu tombol kutekan, PC-nya pun mati. Aku.. Berteman dengan semua orang di grupku. Aku menelungkupkan wajahku di meja. Aku teringat dengan kejadian tadi pagi, dimana Zee dan Nou yang menganggap itu adalah penindasan. Apa menurut kalian ini adalah penindasan??
*Flashback
“Kyaaaaa!!!!” tubuhku didorong dan  terjatuh ke lantai toilet.
“Wah, dasar kotor!!!” suara tawa para gadis bergema di toilet wanita.
“Malah toiletnya yang lebih kotor karena disentuh Ji Eun!!”
“Toiletnya kotor gara-gara bakteri Ji Eun!! Bagaimana ini, Ji Eun?!!” kepalaku pusing karena dijatuhkan sekuat tenaga. Tetapi, aku tetap tersenyum dan berkata,
“E…. He he… Mian.. Mianhae… Nanti aku bersihkan..”
“Beri antiseptic yang benar!” para gadis itu berkata seperti itu, lalu keluar dari toilet sambil tertawa.
Mereka semua teman sekelasku, sekaligus teman-teman grup yang akrab denganku. Diantara kami, akulah yang berperan untuk ditertawakan seperti ini. Aku memeras rokku yang basah kuyup di lantai toilet. Begitu melihat rokku berkerut, air mataku serasa akan mengalir. Namun, aku menepuk pipiku dan menahan diri. Aku sama sekali tak sedih. Ini bukan penindasan. Kemarin aku menulis di bulletin board di Internet untuk pertama kalinya. Aku ingin tahu lebih banyak cara untuk akrab dengan teman-teman grupku.
Namun, semua jawaban atas tulisanku berbunyi “itu penindasan”. Itu… pasti salah. Karena akulah yang salah. Karena akulah yang kotor… Karena aku punya sisi yang sangat memuakkan. Makanya, Seongsaengnim tak berkata apa-apa walaupun melihatku dipukuli dan ditendangi. Kedua orangtuaku pun malah marah begitu melihatku pulang dalam keadaan basah dan kotor, dan berkata, “Merepotkan orangtua saja. Dasar bodoh!”
                Tak kusangka, saat aku menahan tangisku dan keluar dari toilet, ada seorang pria yang sedang memperhatikanku. Sepertinya ia sudah memperhatikanku daritadi. Aku pun berjalan pelan seakan acuh akan kehadirannya. Aku hanya menatapnya sekilas dan pergi. Saat aku telah meninggalkan pintu toilet, ia berkata,
“Apa kau hanya diam? Apa kau tidak bergerak cepat saat diperlakukan seperti itu??” tanyanya. Sepertinya ia berbicara padaku. Karena tak ada oranglain selain aku dan dia di depan toilet.
“Apa maksudmu?” tanyaku masih tak membalikkan badan.
“Kau tahu itu penindasan?”
“Sudah kubilang! Aku tidak mau mengulanginya lagi! Ini bukan penindasan!! Ini… Ini adalah kesalahanku!! Karena aku yang kotor! Karena aku mempunyai sisi yang sangat memuakkan! Kau tahu itu?!!” aku pun berbalik badan dan menatapnya.
“Apa aku berbicara denganmu dengan cara memuakkan?? Lalu, untuk apa mereka melakukan semua ini? Apa itu teman?”
“Ah.. Kau siapa??! Aku tidak mengenalmu! Kau tidak berhak mengata-ngatai temanku!” karena muak, aku pun pergi meninggalkannya.  Siapa dia? Dia bukan siapa-siapa… Aku pun pergi ke kelasku dengan jalan sempoyongan karena pusing.
*Flashback end
                Sungguh, terkadang air mataku mengalir di pelupuk mata yang tidak indah ini.. Aku melihat, orang lain yang memiliki Ibu dan Ayah yang selalu bersamanya jika terjadi hal apapun. Sementara kedua orangtuaku bekerja sejak aku mulai mengingat sesuatu. Pekerjaan Ayah tak berlangsung lama dan gaji yang didapatkannya dengan susah payah dipakainya berjudi. Ibuku pun lembur tiap hari sehingga selalu kelelahan dan marah-marah. Beruntungnya kalian yang memiliki hidup yang sempurna. Aku akan senang jika memiliki orangtua yang peduli terhadap anaknya.. Hanya dengan itu aku bisa bahagia walau aku diperlakukan tidak baik di sekolah…
“Padahal hidupku bisa lebih mudah andai kau tak ada.”
“Harusnya kau tidak dilahirkan.” Mereka selalu mengulang kata-kata itu sejak kecil. Keberadaanku tak diharapkan. Aku selalu merasa kesepian dan sedih. Tempat yang akhirnya menerima diriku yang seperti ini adalah.. grup ini.. Wajar jika diriku yang seperti ini dipukuli, ditendangi, dan ditertawakan. Ini bukan masalah… Sebaiknya, kuhapus semua memori ini dan mulai tertidur.. Besok ada ulangan harian Bahasa Jepang, aku tak mempedulikannya. Aku sudah lelah dan ingin cepat berlalu ke hari esok. Semoga saja di keesokan harinya aku mendapatkan pelangi yang tiba-tiba saja datang secara mendadak dan selalu menemaniku, menerima semua kekuranganku…
……………………….
                Kudengar nyanyian burung di luar sana. Untuk apa mereka bernyanyi?? Berusaha menenangkanku? Tidak mungkin.. Ah, terpaksa kubuka mata ini dan mulai beranjak dari tempat tidur kecil ini. Setelah selesai, aku pun pergi keluar dari kamar. Aku berharap bahwa Ayah dan Ibu sudah berada di rumah.. Untung saja harapanku ini dikabulkan walau hanya ada Ibu yang sedang tertidur di depan televisi. Aku tahu, Ayah, sebentar lagi ia akan pulang saat aku pergi ke sekolah. Dan keributan pasti akan dimulai. Dimana Ayah yang memarahi Ibu karena tidak bersikap seperti Ibu kebanyakan. Namun, pada akhirnya pertengkaran mereka berakhir juga dengan sendirinya.
                Tanpa pikir panjang, aku berpamitan pada Ibu walau ia hanya mengangguk kecil. Entah ia mengerti atau tidak, karena ia sedang tertidur lelap. Daripada aku membangunkannya dan membuatnya terganggu, lebih baik aku pergi ke sekolah.
……………………….
“Ji Eun, selamat pagi!!” para siswi anggota grupku menggengam bahuku sekuat tenaga dan membawaku ke gedung sekolah seolah-olah menyeretku. Aku terjatuh karena tersandung anak tangga sehingga lututku berdarah. Para siswi anggota grupku tertawa sambil berkata, “Ih, kotor! Dia berdarah!” aku tersenyum tipis.
“Maaf, nanti kuberi antiseptic.” Aku berdiri sambil tertawa walaupun merasa sangat kesakitan.. begitulah biasanya aku.
“Baiklah.. Kuharap secepatnya.. Ayo!” Yuri dan yang lainnya pergi meninggalkanku untuk ke kelas.
“Ah…” darah mulai berjatuhan sedikit demi sedikit. Aku pun segera membuka kotak obat yang sudah kupersiapkan seperti biasanya. Setelah selesai, aku pun berusaha untuk berdiri karena ini bukan luka yang amat sangat serius. Namun, aku dikejutkan oleh seseorang yang sedang memperhatikanku di depan. Ah, bukan. Bukan memperhatikan. Tapi, mengasihaniku..
“Kau lagi?” ujarku. Aku tak mengenalinya. Ia adalah pria yang kemarin berada di depan toilet.
“Apa? Penindasan lagi?”
“Bukan! Sudah kubilang beribu kali!”
“Sudah beribu-kah? Menurutku baru dua kali..”
“Dua kali atau satu kali, aku sudah lelah mengucapkannya…” aku pun pergi naik tangga menuju kelas. Kurasa ia juga pergi. Karena aku tak mengenalinya. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Padahal kami satu sekolah..
…………………..
                Waktunya istirahat. Aku beserta teman grupku yang lain segera menghampiri cafeteria sekolah untuk mendapatkan makan siang. Seperti biasanya, aku mengikuti kemana mereka pergi. Aku heran melihat Suzy. Kali ini dia terlihat lebih feminine dari sebelumnya. Hmm, apa karena seseorang?
“Suzy-ah! Youngmin! Itu Youngmin!!” bisik Tiffany saat melihat Youngmin dan beberapa temannya pergi untuk makan siang juga. Hmm, Youngmin? Yang mana? Ada banyak pria disana.. Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya..
“Dimana? Ah! Senangnya…” ujar Suzy dengan suara kecil karena takut terdengar olehnya.
“Youngmin? Siapa?” tanyaku. Semua teman grupku melihat padaku.
“Kau tak tahu? Dia murid baru.. Dan Suzy ini menyukainya..” jawab Yuri. Suzy hanya tersenyum malu.
                Aku yakin, Youngmin juga pasti akan menyukainya. Dia cantik, kaya, dan sempurna.. Tidak sepertiku.. Sebenarnya banyak pria yang menyukainya, namun Suzy hanya membuka hatinya untuk Youngmin. Dan semua keinginannya harus terpenuhi.
“Youngmin kesini!” bisik Tiffany yang melihat Youngmin dan teman-temannya melewati meja kami.  Suzy segera diam dan berusaha tidak grogi.
“Youngmin-ah?” sapa Suzy.
“Hmm, Suzy Bae?”
“Berhentilah memanggilku seperti itu..”
“Baiklah.. Oh ya, aku duluan, ya. Temanku sudah menungguku..”
“Ya…” Aku tak sempat melihat siapa pria itu karena aku berada di depan Youngmin tanpa menoleh ke belakang. Saat aku menoleh ke belakang, dia sudah pergi.
“Ekhmmmm….” Terdengar dari seluruh teman grup. Suzy hanya tersenyum malu.
………………
……………..

                Pagi hari yang cerah. Di dalam bus menuju piknik, suara Seongsaengnim terbang diatas kepala para siswa yang riuh rendah. Hari ini kami akan naik gunung dan memasak di udara terbuka di tepi sungai. Seongsaengnim berkata begitu namun semua siswa duduk bersama grup yang akrab dengan mereka semaunya.
“Aku tidak mau mati karena duduk di samping Ji Eun!!”
“Aku bisa tertular bakteri!!” para siswi yang segrup denganku berbuat gaduh secara berlebihan.
“Kenapa? Apa Ji Eun pakai baju bau lagi?” Yuri berkata dengan nada mengejek. Semuanya tertawa.
“Bukan bau tapi kotor!”
“Itu sih sama saja..” suara tawa mereka makin keras. Aku pun duduk sendirian di tengah keramaian sambil tersenyum tipis.
………………
               Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami memasak kari di udara terbuka. Bahannya kami bawa masing-masing sesuai dengan jumlah yang kami sepakati bersama. Aku menaruh kentang yang kubawa diatas bangku santai yang dihamparkan di tepi sungai.
“Apa ini, Ji Eun?!” Tiffany bicara dengan suara keras.
“Ini… ya, kentang..”
“Kok kamu Cuma bawa dua buah?!”
“Eh? Itu jumlah yang disepakati bersama. Semua bilang ‘kentangnya bawa dua buah’. Kita kan sudah sepakat?”
“Kita kan berenam. Kamu kira dua buah kentang cukup untuk memasak kari untuk 6 orang? Konyol!!”
“Keluarganya kan miskin, jadi bukannya mereka menghemat bahan untuk memasak kari??” suara tawa  terkekeh-kekeh dan keras menyelimutiku.
“Maaf..” ujarku menunduk.
“Kalau punya waktu untuk minta maaf, lakukanlah sesuatu! Kalau kau tidak membawa kentang, kita tidak bisa masak kari!!”
“Lakukan sesuatu!!”
“Tundukkan kepala pada kelompok lain agar mereka mau membagi kentangnya. Cepat!!” suara Yuri terdengar seperti sangat marah. Aku pun lari terburu-buru dan berkeliling ke kelompok lain.
“Permisi.. Bolehkah saya meminta sedikit kentang? Kumohon…” kucoba menundukkan kepala pada mereka. Namun, usahaku sia-sia.
“Permisi.. Apakah ada kentang yang tidak terpakai?”
“Apa saya bisa meminta sedikit kentang?” beribu kata kuucapkan pada semua murid yang berada disana. Dan harapan tinggal satu kelompok lagi. Semoga saja..
“Permisi.. Saya Lee Ji Eun… Apa kalian memiliki kentang yang lebih? Apa saya bisa memilikinya? Kumohon.. Saya tidak memiliki banyak kentang.. Saya lupa membawanya..” ucapku panjang lebar. Namun apa yang mereka jawab. “tidak.” Ah, jawaban yang menyakitkanku. Terlebih itu adalah kelompok pria yang sering melihatku ketika aku di perlakukan seperti biasanya oleh teman grupku.
“Kau? Pasti penindasan lagi.. Ah, bukan.. Dia sudah mengatakannya beribu kali..” gumam pria itu. Ingin rasanya kucabik-cabik wajah dan mulutnya. Tapi, ini semua demi sebuah kentang. Setelah menundukkan kepala, mereka tetap tidak bisa memberikan kentangnya padaku.
Tentu saja tak ada kelompok yang membawa kentang lebih sehingga aku kembali dengan tangan hampa. Saat melihatku begitu, gadis-gadis di grupku memarahiku dan mendorongku sambil berkata, ”Kok setelah menundukkan kepala malah pulang dengan tangan hampa?!” sampai aku terjatuh ke dalam sungai.
“Hei! Kami mau cuci wortel di sungai itu! Janga kotori air sungainya, bakteri Ji Eun!!” semua menatapku yang tak kunjung bisa berdiri di tengah arus sungai sambil tertawa. Akhirnya, aku dapat berdiri di tepi sungai dalam keadaan basah kuyup.
“Wah, basah kuyup. Sepertinya dingin...” Tahu-tahu ada seseorang yan bicara lembut padaku. Hatiku yang membeku meliebihi tubuhku menjadi hangat. Dan dalah sekejap berikutnya dia berkata, “Biar kuhangatkan dirimu!” Setelah memandang wajahnya, aku pun mengelak untuk mengikutinya. Dia adalah pria yang selalu mengasihaniku itu! Membuatku malu saja! Mengapa dia tiba-tiba bersikap baik seperti ini?
“Youngmin?” ujar Suzy.  Apa? Diakah Youngmin itu? Karena melamun, tak kusangka ia memegangku dan tiba-tiba saja aku berada di tenda miliknya. Pria itu memegang pemantik api, berpura-pura menyalakannya dan mendekatiku.
“Tidak… Hentikan!!” teriakku. Aku takut Suzy marah. Tapi tidak mungkin dia marah padaku. Apalagi cemburu padaku, karena aku ini hanyalah wanita biasa.. Karena melamun, tanpa kuketahui, Youngmin membawaku ke tendanya. Youngmin menahanku yang hendak kabur dan berkata,
“Kau kenapa? Kau akan masuk angin!”
“Kumohon.. Hentikan!!”
“Kau berlebihan. Kau tidak akan mati karena pemantik api,”
“Mati pun tidak masalah..”
“Kau bakal mati karena bakterimu sendiri??”
“Ah, kau siapa??” aku pun pergi dari sana.
“Dia bakteri Ji Eun!”
“Cepatlah mati!”
“Kami yang akan mengadakan upacara pemakamanmu, jadi cepatlah mati! Itu demi dunia dan umat manusia!!” suara itu yang terdengar saat aku berjalan pergi menghampiri teman grupku. Mereka malah tertawa melihatku dalam keadaan basah kuyup seperti ini.
………………
Ini permainan.. Sesama teman.
“Cepatlah mati!!”
“Itu demi dunia dan umat manusia!” aku pulang ke rumah dan duduk di depan PC-ku dengan baju lembab. Mereka temanku.. Tapi aku sengsara. Hubungan pertemanan ini membuatku sengsara.. Siapa saja, jawablah aku. Aku melihat bulletin board yang kutulis sendriri. Dan perasaanku jadi berat.
“Zee”
                Maaf, aku melukaimu.. Aku ini tak berperasaan ya??
“Nou”
                Ayo kita pikirkan pelan-pelan… Kami ini pendukungmu..
“Pendukung..” mereka bukan grup atau temanku, tapi “pendukung”. Aku mulai mengetik dan menulis semua kejadian hari ini. Baik soal di dalam bus, soal didorong ke sungai, ataupun soal ketika ada yang berkata “Cepatlah mati”.Aku menuliskan semua itu dan menunggu jawaban.. Belum tentu mereka membacanya sekarang. Tapi aku tetap menunggu. Aku ingin membaca kata-kata mereka. Dan jawaban baru pun segera ditulis.
“Zee”
IU  pasti sedih. Mungkin kau belum ingin membaca kata “penindasan”. Tapi aku membaca tulisanmu dan airmataku tak bisa berhenti mengalir…
“Nou”
Di dunia ini tak ada orang yang berhak dilukai. Itu menyedihkan… Bersabarlah.. Suatu saat, kau pasti akan mendapatkan semua yang kau inginkan..  
             Tenaga dan tubuhku lenyap. “Teman-temanku” selalu tertawa saat melihat diriku bersedih dan sengsara. Tapi mereka ini menangis untuk kesedihan dan kesengsaraanku. Tak terasa, aku pun terlelap dalam tidurku.
......................
              Esoknya aku berjalan sampai ke depan sekolah dan kakiku tak dapat bergerak karena kram. Aku amat.. sangat takut masuk sekolah.
“Lee Ji Eun?” seorang pria menyapaku di depan gerbang sekolah. Ya, dialah Youngmin. 
“Youngmin?” jawabku tidak percaya. Untuk apa seorang pria sepertinya menyapaku?
“Kau tak apa??” aku pun menggelengkan kepala dan menghindar darinya.
“Aku duluan..” setelah itu, aku tak tahu apa yang dilakukan Youngmin.
“Lee Ji Eun!!!” sapa teman-teman grupku di depan kelas. Aku pun tersenyum dan menghampiri mereka semua.
“Berikan aku uang kompensasi!” tiba-tiba wajah mereka menjadi serius.
“Aku tidak punya uang..”
“Kau kan cukup mengambilnya dari dompet orangtuamu. Walaupun miskin, mereka pasti punya uang walau sedikit.” Mereka masuk ke kelas sambil tertawa.
“Besok kamu harus membawanya, atau nasibmu bakal lebih sengsara!”
“Karena kau mati pun takkan ada yang sedih!!” suara tawa memenuhi gedung sekolah seolah-olah hendak melumatku. Mana bisa kuambil uang mereka. Itu namanya mencuri. Tapi jika uangnya tak kubawa, mereka bilang nasibku bakal lebih sengsara.. Memang bakal bagaimana nasibku?? Kalau nasibku bakal lebih sengsara, aku akan diapakan? Padahal aku sudah banyak menderita… Aku benci neraka ini. Tiba-tiba ada seseorang yang menubrukku dari belakang. Sepertinya ia sedang terburu-buru.
“Ah, mianhae, Ji Eun…” ujar Suzy. Dia memang baik, tapi dia juga seperti teman grupku yang lain.. Aku hanya mengangguk dan menunduk. Suzy pun berlalu masuk ke kelas.
…………………...
                Sepulang sekolah, aku segera pulang ke rumah tanpa kemanapun. Hari ini Ayah dan Ibu ada di rumah. Jadi, aku harus segera pulang.
“Aku pulang..” ujarku saat masuk ke dalam rumah. Walaupun Ayah dan Ibu ada di rumah, tapi mereka tidak menyahutnya sama sekali.
“Eomma?” kusapa Ibu yang sedang memasak di dapur. Baru kali ini aku melihatnya memasak di dapur. Ayah juga sedang menonton televisi di ruang keluarga. Setelah memastikan bahwa mereka ada di rumah, aku segera masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaianku.
“Siapa ini?!!” tak lama, terdengar suara keributan dari ruang tengah. Ada apa? Pasti Ayah dan Ibu sedang ribut.. Aku tak mau dengar suara mereka. Aku sudah lelah mendengarkan mereka. Pasti semuanya karena aku.. Anak yang tidak berguna bagi mereka semua.. Sebaiknya aku tidak membebani mereka.. Aku harus tinggal di tempat kost. Hari ini juga.. Aku pun segera mengemasi barang-barangku ke dalam tas yang cukup besar. Setelah itu berpamitan pada orangtuaku. Wajah mereka terlihat bingung ketika melihatku membawa tas yang cukup besar.
“Kau mau kemana?” Tanya Ayah.
“Appa, Eomma, aku minta izin… Sebaiknya aku tinggal sendirian di rumah kost daripada membebani kalian berdua.. Apa diizinkan?”
“Ah, baiklah. Pintar juga kau ini..”
“Jaga dirimu baik-baik.. Ini uang untukmu..” ujar Ibu memberikan sedikit uang.
“Tidak.. Ini untuk Eomma dan Appa saja.. Aku memiliki tabungan sedikit. Semoga bias mencukupi kehidupanku.. Appa, Eomma, aku pergi..” aku pun bersalaman pada mereka berdua dan pergi. Rasanya airmataku ingin keluar. Aku tak bias menahannya lagi. Tapi, aku harus membuat mereka senang tanpa kehadiranku.
                Akhirnya, aku mulai mencari tempat kost yang dekat dengan sekolah. Walau tidak dekat dengan sekolah, yang penting harganya murah. Dan kudengar, ada salah satu tempat kost di dekat sini. Semoga saja harganya terjangkau olehku..
“Annyeong haseyo.. Apakah saya bisa bertemu dengan pemilik kost ini?” ujarku pada seorang Ahjussi di depan gerbang rumah bertingkat itu. Tapi, modelnya tidak sebagus rumahku yang dulu.
“Ne.. Saya sendiri.. Apa kau ingin mencari kamar kost?”
“Ne..”
“Ah, untung saja.. Ada satu kamar yang kosong.. Ini kuncinya, di nomor 12..”
“Mianhaeyo, ehmmm, apa.. Ehmm, berapa harga satu bulannya??”
“Ah, karena kamar ini satu-satunya kamar yang kosong saat ini, lalu ruangannya juga tidak terlalu besar, maka Rp100.000 saja sudah cukup..”
“Apa? Apa bisa dikurangi??”
“Hai! Ini sudah harga paling murah.. Harusnya Rp200.000, tapi ini harga khusus.. Atau kau ingin aku menetapkan harga awal??”
“Ah, ani.. Baiklah.. Apa bisa dicicil? Aku akan memberikannya Rp20.000 dahulu..”
“Ah, tidak apa-apa.. Kau pelajar kan? Aku akan menunggu uangnya setelah kau genap satu bulan disini..”
“Ah, jinjjanayo??? Ghamsahamnida, Ahjussi..”
………………..
                Setelah mendapatkan kamar, aku pun segera mencari dan mencari. Akhirnya, kutemukan kamar nomor 12, berada di lantai atas. Jalan yang kulalui untuk ke dalam kamar memang cukup sempit. Mungkin hanya cukup untuk tiga orang atau empat orang saja. Saat hendak naik tangga, tas koper yang kubawa pun jatuh di lantai karena berat. Dengan terpaksa, kucoba angkat tas itu sedikit-demi sedikit.
“Biar kubantu..” tiba-tiba saja datang seorang pria dari belakangku. Ia mencoba untuk membawakan tasku. Sepertinya ia seorang pelajar murid SMA, karena saat itu ia sedang memakai seragam sekolah.
“Ah, tak usah.. Ghamsahamnida..” kucoba menariknya lagi dan akhirnya aku yang membawa tasku sendiri. Ia mengikutiku dari belakang. Sepertinya ia juga tinggal disini.
“Kau orang baru disini?” tanya pria itu. Aku pun mengangguk.
“Kau di kamar mana?”
“12…”
“Jinjja? Aku di nomor 11.. Di depan nomor 12.. Baguslah, kita bisa jadi tetangga..” aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
“Ah, sudah sampai..” aku pun berpamitan dengan tersenyum padanya lalu mencoba membuka pintu. Kulihat dia memperhatikanku sampai masuk ke dalam kamar. Aku hanya bisa tersenyum kecil.
…………….

*TBC (To Be Continued)

| Free Bussines? |

2 komentar:

  1. Lanjut ya... Seru nih... :D

    BalasHapus
  2. waaah.. Aku baru nemu FF ini . keren-keren . Tapi kasian bgt nasib IU disini . Nyesek bacanya . Huhuhu..
    Itu cowok di kost baru IU, si minwoo yah? Hehehe #soktau.

    BalasHapus